Langsung ke konten utama

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KIAI KHARISMATIK DI PADANG PARIAMAN STUDI TERHADAP SYEKH H. ALI IMRAN HASAN (1926-2017) Oleh: Armaidi Tanjung

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KIAI KHARISMATIK
DI PADANG PARIAMAN
 STUDI TERHADAP SYEKH H. ALI IMRAN HASAN (1926-2017)
Oleh:
Armaidi Tanjung**[1]



Pendahuluan
Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, merupakan daerah yang cukup banyak memiliki ulama. Karena di daerah ini terdapat puluhan pondok pesantren yang mendidik santrinya menjadi ulama. Paling tidak, ulama yang dihasilkan mampu menjadi orang yang mengajarkan nilai-nilai agama Islam di lingkungannya.
Ulama yang dihasilkan pondok pesantren tersebut, lebih popular dengan sebutan tuanku. Tuanku berarti orang yang dihormati. Sebagai ulama yang dididik di pesantren, tuanku adalah orang yang dihormati di tengah masyarakat. [2]  Di Aceh panggilan kepada raja dan dubalang ialah Teuku.  Di sebelah ke pesisir Timur dan Riau panggilan kepada sultan dan raja ialah Tengku. [3]  Sedangkan di pulau Jawa, lebih dikenal sebutan kiai.
Istilah kiai  dalam bahasa Jawa dipakai untuk tiga jenis gelar dengan peruntukan yang berbeda satu sama lain. Pertama, kiai gelar kehormatan bagi benda-benda yang dianggap keramat, misalnya kiai Garuda Kencana, sebagai nama bagi salah satu kereta kuda milik kraton Yogyakarta. Kedua, gelar kehormatan untuk orangtua pada umumnya. Ketiga, gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada ahli agama Islam (ulama) yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab klasik kepada para santrinya.[4]
Kajian tulisan ini mencoba membahas persepsi masyarakat terhadap kiai kharismatik di Padang Pariaman, studi kasus Syekh H.Ali Imran Hasan (1926-2017). Syekh Ali Imran sendiri adalah pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat.

Persepsi Masyarakat Terhadap Kiyai 
Persepsi dapat didefinisikan sebagai tanggapan; penerimaan langsung dari suatu serapan, proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindaranya.[5] Terkait dengan tema tulisan ini, bagaimana memperbincangkan persepsi masyarakat terhadap sosok kiyai yang menjadi ulama di tengah masyarakat.
Paling tidak, ada beberapa syarat yang harus dimiliki agar dirinya memiliki identitas kiai.
1. Pengamalan ilmu yang diemban. Seorang kiai selain pengemban ilmu, ia juga harus mengamalkan ilmu itu.
2. Penyiaran ilmu yang diemban. Seorang kiai harus menyiarkan dan memasyaratkan ilmunya guna memberikan informasi, bimbingan dan tuntunan kepada masyarakatnya.
3. Tunduk sepenuhnya kepada Alqur’an. Seorang kiai dalam bersikap dan bertindak adalah tuntunan Allah dan Rasul, menerima dengan puas keputusan berdasarkan agama
4. Kesadaran terhadap kepastian terjadinya janji dan ketentuan Allah. Kesadaran ini akan mendorongnya untuk selalu ingat pada tanggung jawab pribadinya sebagai kiai sehingga selalu memperhatikan  kewajiban daripada hak yang pasti diperoleh.
5. Bersikap rendah hati (tawadlu’). [6]
Sebagai akibat dari status dan peran yang disandangnya, ketokohan dan kepemimpinan kiai telah menunjukkan betapa kuatnya kecakapan dan pancaran kepribadian dalam memimpin pesantren dan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana seorang kiai membangun peran strategis sebagai pemimpin masyarakat non-formal melalui komunikasi intensif dengan masyarakat. Posisi vitalnya di lingkungan pedesaan sama sekali bukan hal baru.[7]
Kharisma kiai memperoleh dukungan masyarakat –hingga batas tertentu—karena dia dipandang memiliki kemantapan moral dan kualitas iman yang melahirkan model kepribadian magnetis bagi para pengikutnya. Proses ini mula-mula beranjak dari kalangan terdekat, sekitar kediamannya, kemudian melebar keluar menuju tempat-tempat yang jauh, seperti kharisma KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah di Jombang, KH. Kholil Bangkalan dan KHR. As’ad Syamsul Arifin dari Sitobondo dan beberapa kiai lain, terutama mereka yang berafiliasi pada organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Kharisma yang dimiliki kiai tersebut dalam sejarahnya mampu menjadi sumber inspirasi perubahan dalam masyarakat.  Dengan kharisma yang dimilikinya, kiai tidak hanya dikategorikan sebagai elit agama, tetapi juga sebagai elit pesantren dan tokoh masyarakat yang memiliki otoritas tinggi dalam menyimpan dan menyebarkan pengetahuan keagamaan Islam serta berkompeten dalam mewarnai corak dan bentuk kepemimpinan, terutama dalam pesantren. Kharisma yang melekat pada dirinya menjadi tolok ukur kewibawaan pesantren.[8]
Kepemimpinan kiai, sering diidentikkan dengan atribut kepemimpinan kharismatik. Dalam konteks tersebut, Sartono Kartodirjo menyatakan bahwa kiai-kiai pondok pesantren, baik dulu maupun sekarang, merupakan sosok penting yang dapat membentuk kehidupan sosial, kultural dan keagamaan warga muslim di Indonesia. Pengaruh kiai terhadap kehidupan santri tidak terbatas pada saat santri masih berada di pondok pesantren, akan tetapi berlaku dalam kurun waktu panjang, bahkan sepanjang hidupnya, ketika sudah terjun di tengah masyarakat.[9]
Kiai dalam konteks Padang Pariaman, disebut dengan tuanku. Sosok tuanku yang lebih senior juga disebut dengan gelar syekh.  Duski Samad menyebutkan, tuanku  adalah gelar kehormatan yang diberikan kepada orang-orang yang dipandang mampu dan bijak dalam menyampaikan agama. Kata tuangku atau tuanku berasal dari bahasa Minang “tuan” artinya kakak dan “ku” artinya aku. Jadi tuanku berarti “kakakku”. Di samping itu ada pula pendapat yang menyebutkan berasal dari kata “tengku” (bahasa Aceh), gelar kebangsaan Aceh, yakni orang alim dibidang syarak (agama). Adalagi yang mengatakan tuanku dari ‘daulat tuanku” yang diambil dari gelar raja-raja dipertuan Agung di Malaka dulunya. Duski Samad lebih condong melihat kata tuanku diambil dari tengku, gelar kebangsaan Aceh yang alim, arif, memiliki wawasan keagamaan dan intelektual di masanya. Hal ini didasarkan karena begitu lamanya pengaruh Aceh terhadap daerah Pariaman pada abad lampau itu. [10]    
Di alam Minangkabau panggilan kepada Daulat Yang Dipertuan di Pagarruyung dan raja di sebelah Pesisir ialah Tuanku. Jadi Teuku, Tengku dan Tuanku sama nilainya, sama-sama panggilan kepada raja-raja. [11]      
Dilihat dari riwayat hidup Syeikh Burhanuddin Ulakan (1646-1692 M)[12], sudah banyak diantara muridnya yang bergelar tuanku.  Sjafnir Aboe Nain Dt. Kando Marajo menyebutkan, gelar tuanku diberikan, pertanda penguasaan ilmu sudah dapat dipercaya berdisi sendiri mengembangkan surau di nagarinya. Tuanku dapat disamakan dengan menyandang gelar sarjana untuk masa kini. Sedangkan gelar Syekh sebagai gelar tertinggi merupakan “guru gadang” yang masih langka pada awal gerakan Paderi.[13]
Abdul Razak Tuanku Mudo menyebutkan, tuanku merupakan panggilan kepada guru di pondok pesantren. Di Kalimantan ada juga panggilan Tuanguru. Seorang santri yang belajar di pondok pesantren sangat menghormati gurunya. Panggilan Tuanku hanya digunakan bagi tuanku yang usianya di bawah yang memanggil. Sedangkan bagi Tuanku yang usianya lebih tua, maka orang lain memanggilnya ungku. [14]
Terlepas dari mana asal kata  tuanku, kini sudah dipahami masyarakat di Padangpariaman bahwa tuanku merupakan gelar akademik pesantren salafiah di Padangpariaman dan daerah lainnya. Dikatakan gelar akademik pesantren khas Padangpariaman, karena gelar itu bukan diberikan kepada sembarang orang saja. Namun harus diberikan kepada orang yang sudah menempuh pendidikan agama yang membahas kitab-kitab kuning (Arab gundul) karangan ulama Timur Tengah. Artinya, gelar tuanku diberikan oleh gurunya, kemudian mendapat legitimasi atau pengakuan secara de jure dari mamak adatnya, sekalipun restu atau legitimasi dari mamak adat tidak mutlak. [15]    
Makanya, sosok seorang tuanku adalah orang yang mengerti dengan agama, tahu adat, memahami rukun tigo baleh surau dan rukun tigo baleh kampung (ketek banamo, gadang bagala). Mengutip pendapat  Muhammad Leter Tuanku Bagindo, tuanku adalah persenyawaan atau titisan dari filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. [16]   

Sosok Syekh H. Ali Imran Hasan  
Sosok Syekh Ali Imran sebagai ulama tidak bisa dilepaskan dari leluhurnya yang sudah menjadi ulama terkemuka sebelumnya. Dari silsilah keturunan, Ali Imran terlahir dari rahim yang memiliki darah ulama.  Salah satu ulama yang terkemuka di Padangpariaman pada abad 18, adalah Syekh Muhammad Aminullah bin Abdullah Tuanku Mudo Mato Aie.  Muhammad Aminullah Bin Abdullah lahir pada tahun  Senin 1789 dan  wafat  pada Senin September 1926, dalam usia 137 tahun.[17] Orang tua laki-lakinya bernama Muhammad Abdullah, berasal dari Suku Tanjung Toboh Ketek, dan ibunya yang berasal dari Suku Koto, Kampuang Pandan, Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman.
Ali Imran lahir waktu subuh  pada tanggal 30 Juni 1926 di Tanjung Aur. Ayahnya  bernama Pakiah Hasan Tuanku Bagindo dan ibunya Siti Marin. Jika dirunut silsilah nenek moyang Ali Imran, darah ulama memang sudah dimilikinya. Syeikh Muhammad Amin bin Abdullah yang lebih dikenal dengan sebutan Syekh Mato Aie di Pakandangan yang terkenal di wilayah Padangpariaman, adalah kakek buyut Syekh H. Ali Imran Hasan.[18]
Di saat usia Ali Imran sudah memasuki usia sekolah, pendidikan dasar yang diperoleh adalah pengetahuan agama, mengaji, tata cara sholat dengan baik dan benar. Karena ayahnya seorang ulama, Ali Imran selalu dapat wejangan agama baik langsung maupun melalui pengajian-pengajian yang diberikan  Hasan kepada murid-muridnya. Pengajian yang diadakan  Hasan di surau Tangah Sawah Ringan-Ringan Pakandangan. 
 Hasan yang mengajar dengan sistem pengajian halaqah (tradisional), dimana guru dikeliling oleh murid-murid. Pendidikan yang diberikan  Hasan kepada Ali Imran memberi arti yang sangat penting bagi Ali Imran selanjutnya. Ali Imran sudah memiliki dasar-dasar agama. Sedangkan pengajian kitab dipelajarinya kepada para ulama yang di Sumatera Barat.
Tahun 1935 Ali Imran dibawa ayahnya Pakiah Hasan ke Sitanang Lubuk Basung. Di sana Ali Imran sekolah rakyat hingga kelas 5. Ia tamat kelas 5 tahun 1940. Kemudian ayahnya pindah ke Tapian Kandi, Palembayan Matua Kabupaten Agam. Di Ali Imran turut membangun Sekolah Dasar, sekaligus mengajarnya. Meski baru tamat kelas 5, tapi sudah bisa mengajar.
 Tahun 1944, Ali Imran kembali menuntut ilmu agama Islam, bahasa Arab dan kitab Alqur’an dengan Syekh Ibrahim Koto Baru Padang Panjang, seorang ulama yang cukup terkenal di Padang Panjang.
Dari Tiakar Payakumbuh, kemudian Ali Imran melanjutkan pendidikannya ke Padang Japang selama setahun, 1950, kepada Syekh H. Nasaruddin Taha. Memang tidak lama di Padang Japang. Karena Ali Imran melanjutkan pendidikan ke Malalo, Tanah Datar, di pinggir danau Singkarak tahun 1950.
Di Malalo, Ali Imran tidak saja belajar kitab seperti sebelumnya, tapi sudah dipercaya mengajar banyak santri. Di Malalo ini Ali Imran mulai menampakkan bakatnya sebagai guru, ulama, sekaligus pendakwah yang disenangi jamaah. Mula-mula dipercaya mengajar santri yunior, kemudian dipercaya Pimpinan Pesantren  Syekh Zakariya Labai Sati Malalo menggantikan dirinya pada momen tertentu sampai memberikan pengajian rutin kepada jamaah di Malalo.
Tahun 1960 Syekh Ali Imran pulang ke kampung halamannya. Karena Syekh Zakaria Labai pergi ke Aceh. Kehadiran Syekh Ali Imran sangat ditunggu oleh masyarakat Nagari Pakandangan karena di sana sudah menyebar paham wahdatul wujud yang sulit diterima masyarakat.
Tahun 1961, Ali Imran  Hasan mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Ringan-Ringan Nagari Pakandangan Kecamatan 2 X 11 Anam Lingkung. Tahun 1963, berdatangan orang yang ingin  masuk ke Madrasah Tarbiyah Islamiyah ini. Mereka berasal dari Malalo Tanah Data sebanyak 60 orang, Anduriang 40 orang dan dari Kasang 30 orang. Total santrinya saat itu mencapai 130 orang.
Tahun 1963 Ali Imran membangun sekolah pesantren tingkat tsanawiyah  langsung diberikan ijazah bagi yang lulus. Ketika itu, mereka yang menyelesaikan pendidikan di pesantren atau pengajaran kitab kuning masih langka. Dalam pendirian itu, Ali Imran dibantu Rizul Afkar adik seayah, H. Muslim Tuanku Majolelo adik seibu dan Idris Tuanku Nan Kuning saudara sepersukuan.
Tahun 1966 nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah diganti menjadi Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan 2 x 11 Anam Lingkuang. Pondok Pesantren Nurul Yaqin didirikan atas prakarsa Ali Imran dengan bantuan berbagai pihak masyarakat dan lembaga masyarakat di Nagari Pakandangan. Nama Nurul Yaqin sendiri merupakan ide Ali Imran.
Kelangsungan Pesantren Nurul Yaqin hingga hari ini adalah karena ditopang oleh murid-muridnya. Tak satupun guru-guru di Pesantren Nurul Yaqin dari luar, semua guru di Pesantren Nurul Yain adalah murid Buya Ali Imran. Bahkan guru di Pesantren Nurul Yaqin berlebih, sementara di pesantren lain masih banyak yang kekurangan. Selain itu, hitung-hitungan jasa (honor) mengajar tidak menjadi persoalan yang mendasar. Berbeda dengan guru yang bukan murid pimpinan pesantren, belum tentu bisa diterima apa adanya.  Para guru tersebut setia, istiqomah dan tetap ikhlas menjalani tugas sebagai guru. Toh mereka juga sudah mengalami bagaimana suasana guru dan belajar di Pesantren Nurul Yaqin.
 Beberapa pemikiran Syekh Ali Imran yang dapat penulis tangkap adalah; pertama, musik baralek. Bagi Syekh Ali Imran kehadiran musik dan hiburan sejenisnya sangat tidak disukai. Jika ada tempat baralek (pesta perkawinan) yang ada musiknya, pasti Ali Imran tidak akan pernah hadir.
Kedua, santri perempuan. Syekh Ali Imran juga menerima perempuan menjadi santri di Pesantren Nurul Yaqin. Setelah adanya pertanyaan  beberapa orangtua santri kenapa  anak perempuan tidak diterima jadi santri.  Akhirnya Ali Imran menerima santri perempuan. Diantara lulusan pertama santriwati bergelar Ustadzah Fatihiah, Ulimatul Jazimah. 
Ketiga, fokuskan  mengajar. Selama hidup jangan sampai meninggalkan tiga hal,  alim, muta’alim dan sami’an. Paling minimal adalah sami’an, mendengarkan pengajian agama. Keempat,  fatwa rokok. Syekh Ali Imran  sendiri mempelopori untuk berhenti merokok. Hal itu tidak gampang dilakukan di tengah orang yang kesehariannya merokok. Ali Imran ingin mencontohkan, memperlihatkan dan membudayakan bahwa sesuatu yang salah harus dihentikan. Dibuktikan dengan perbuatan, tidak cukup hanya dengan himbauan, ceramah atau peringatan semata. Ali Imran termasuk pelopor tidak merokok di Padangpariaman.   
Syekh Ali Imran  wafat pukul 04.00 WIB Rabu (12/4/2017) dini hari, di kediamannya yang berada di komplek Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Kabar duka ini cepat menyebar melalui media sosial dan hape  hingga kawasan Pesantren Nurul Yaqin terlihat dipadati masyarakat yang datang berbagai daerah.[19] 
Sekalipun sudah berada di alam lain dari santrinya, Buya Ali Imran akan selalu mengawasi jalannya proses belajar mengajar di Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Bagi santri Pesantren Nurul Yaqin sendiri, jika mereka ingin berziarah ke makam gurunya, pendiri Pondok Pesantren Nurul Yaqin, maka mereka tidak perlu pergi jauh dari pesantrennya.
Tentu harapan dari Buya Ali Imran  adalah bagaimana generasi muda Islam mampu mengalokasikan waktunya untuk belajar agama. Sehingga mereka dapat terhindar kesesatan dan kemunafikan dalam menjalani kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat kelak.
Kontribusi besar Pesantren Nurul Yaqin yang dirintis Syekh Ali Imran adalah melahirkan guru-guru mengaji yang mengajar di berbagai surau, mushalla dan masjid  yang tersebar di berbagai daerah di Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat, bahkan di luar Sumatera Barat. Sebagai guru mengaji  sekaligus mengajarkan ilmu dan nilai-nilai Islam, alumni Nurul Yaqin menjadi “pelita” di tengah umat.  Selain itu, juga mendirikan pondok pesantren Nurul Yaqin di berbagai daerah.

Penutup
Dari sisi peninggalan pondok pesantren Nurul Yaqin beserta santrinya, merupakan warisan yang tetap hidup dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Pondok pesantren tersebut sudah menghasilkan ribuan alumni. Bahkan para alumni sudah mendirikan belasan pondok pesantren Nurul Yaqin. Selain itu, amaliyah yang sudah dicontohkan Syekh Ali Imran hingga kini masih dilanjutkan oleh para alumni Nurul Yaqin dan jamaah yang masih tetap berguru kepada murid-murid Syekh Ali Imran. Itu semua hasil dari kharismatik yang dimiliki Syekh Ali Imran.
Namun sampai Syekh Ali Imran wafat, belum ditemukan karya pemikiran dan amaliahnya dalam bentuk tulisan yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Baik kepada santri, maupun publik. Di kalangan muridnya pun, hingga kini belum ditemukan kajian konkrit terhadap pemikiran dan tradisi amaliahnya secara tertulis. Berbagai penelitian yang dilakukan masih sebatas pada biografi, eksistensi pondok Pesantren Nurul Yaqin di tengah masyarakat.
Semoga tulisan singkat ini tidak mengurangi sosok kharismatik yang dimiliki Syekh Ali Imran Hasan. Semoga.








Daftar Pustaka

Ali Maschan Moesa, Nasionalisme Kiai Kontruksi Sosial Berbasis Agama, LKIS, Yogyakarta, 2007
Duski Samad,  Syekh Burhanuddin dan Islamisasi Minangkabau (Syarak Mandaki Adat Manurun), The Minangkabau Foundation, Cetakan I, Juni 2002
Edi Susanto, “Kepemimpinan (Kharismatik) Kyai Dalam Perspektif Masyarakat Madura”, KARSA, Vol. XI No. 1 April 2007
Harian Singgalang, edisi 13 April 2017 di halaman 1.
Rahmat Tuanku Sulaiman, S.Sos, S.Ag, M.M., “Tradisi Pengangkatan Tuanku di Pesantren”, Singgalang 18 Juli 2006
Sadri Chaniago, Tuanku dan Politik Kiprah Ulama Tarekat Syathariyah Dalam Dinamika Politik Lokal di Minangkabau, Erka, Padang, 20018
Shalahuddin Hamid dan  Iskandar Ahza,   100 Tokoh Islam Paling Berpengaruh di Indonesia, Intimedia, 2003
Sinar Sumatra, 8 September 1934 halaman 3 – 4.
Sjafnir Aboe Nain Dt. Kando Marajo, Posisi Sumpah Sakti Bukit Marapalam Sebagai Kesepakatan Paska Padri, makalah pada seminar  Sejarah Perang Paderi 1803-1838 Perspektif Sosial Budaya, Sosial Psikologis, Agama dan (Strategi Perang) Manajemen Konflik, Jakarta 22 Januari 2008 diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Yandianto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, M2S Bandung, Bandung, 1997, cet.II





*). Disampaikan pada FGD di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Padang Pariaman, Minggu 21 Oktober 2018.
**) Armaidi Tanjung, master bidang kajian Ilmu Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Islam,  Program Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang,  Pengampu mata kuliah Metode Pemberdayaan Masyarakat di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Imam Bonjol Padang, wartawan utama, HP/WA: 085263749170 email:  armaidi9@gmail.com
[2] A.Razak Tuanku Mudo, wawancara  di Pariaman, 18 September 2006. Razak lahir di Lubuakpandan tahun 1933, alumni Pondok pesantren Dinul Ma’aruf Perguruan Islam Sungaidurian Ujunggunuang Kecamatan Patamuan Kabupaten Padangpariaman (1953),  mantan Kepala Kantor Departemen Agama Kota Padang, Kabupaten Agam, Kabupaten Pesisir Selatan, Anggota DPRD Padangpariaman (1997-1999), Musytasar PW NU Sumbar (2005-2010), dan anggota Badan Musyawarah MUI Sumbar (2001-2005).
[3] Rujukan  Sinar Sumatra, 8 September 1934 halaman 3 – 4.
[4] Ali Maschan Moesa, Nasionalisme Kiai Kontruksi Sosial Berbasis Agama, LKIS, Yogyakarta, 2007, h.56
[5] Yandianto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, M2S Bandung, Bandung, 1997, cet.II, h.431
[6] Ali Maschan Moesa, Nasionalisme Kiai Kontruksi Sosial Berbasis Agama, LKIS, Yogyakarta, 2007, h.56-57
[7] Edi Susanto, “Kepemimpinan (Kharismatik) Kyai Dalam Perspektif Masyarakat Madura”, KARSA, Vol. XI No. 1 April 2007, h.31
[8] Edi Susanto, ibid, h.32
[9] Edi Susanto, ibid, h.34
[10] Duski Samad,  Syekh Burhanuddin dan Islamisasi Minangkabau (Syarak Mandaki Adat Manurun), The Minangkabau Foundation, Cetakan I, Juni 2002, hal. 36 dan Rahmat Tuanku Sulaiman, S.Sos, S.Ag, M.M., “Tradisi Pengangkatan Tuanku di Pesantren”, Singgalang 18 Juli 2006
[11] Hal senada juga diungkapkan Tuanku H. Mohammad Leter kepada penulis 14 September 2006 di Padang. Mohammad Leter alumni Pondok Pesantren Matoaia Pakandangan Kabupaten Padangpariaman, pernah menjadi Anggota DPRD Propinsi Sumatera Barat periode 1992-1997, Wakil Syuriah PW Nahdlatul Ulama Sumatera Barat 2005-2010.)
[12]  Shalahuddin Hamid dan  Iskandar Ahza,   100 Tokoh Islam Paling Berpengaruh di Indonesia, Intimedia, 2003, h. 146.
[13] Sjafnir Aboe Nain Dt. Kando Marajo, Posisi Sumpah Sakti Bukit Marapalam Sebagai Kesepakatan Paska Padri, makalah pada seminar  Sejarah Perang Paderi 1803-1838 Perspektif Sosial Budaya, Sosial Psikologis, Agama dan (Strategi Perang) Manajemen Konflik, Jakarta 22 Januari 2008 diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
[14] Abdul Razak Tuanku Mudo,  wawancara  18 September 2006 di Pariaman.
[15] Rahmat Tuanku Sulaiman, “Tradisi Pengangkatan Tuanku di Pesantren”, Singgalang 18 Juli 2006.
[16] Rahmat Tuanku Sulaiman, Ibid.
[17] Bahan-bahan dalam bagian ini merupakan wawancara penulis dengan salah seorang keturunan Syekh Muhammad Aminullah Tuanku Mudo Mato Aie, Awaluddin Datuak Pamuncak Majolelo, Sabtu, 6 Agustus 2016 di kediamannya, kawasan Tapakih, Nagari Sintuak Kecamatan Sintoga, Kabupaten Padangpariaman.
[18] Tahun kelahiran Ali Imran juga bersamaan dengan peristiwa gempa bumi yang menghebohkan di Padangpanjang tahun 1926. Gempa tersebut juga menjadi petunjuk waktu bagi banyak orang di Minangkabau untuk mengingatkan sesuatu peristiwa yang dialami dalam keluarganya. Tahun 1926, juga tahun kelahiran organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama yang lahir tepat 31 Januari 1926.

[19] Harian Singgalang, edisi 13 April 2017 di halaman 1.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Bung Hatta dan KH Hasyim Asy’ari

Oleh: armaidi tanjung (Pecinta Tokoh Indonesia) Dua tokoh yang terlahir dari rahim Indonesia dalam perjalanan masa pendidikannya, bertahun-tahun berada di negeri orang. Meski bertahun di sana, keduanya tetap menjadi jati dirinya sebagai orang Indonesia. Bahkan dikemudian hari, mereka menentang bangsa dimana beliau menuntut ilmu. Keduanya adalah   Mohammad Hatta yang dikenal dengan Bung Hatta dan KH Hasyim Asy’ari.  Bung Hatta dikenal dengan tokoh proklamator   bangsa Indonesia. Karena beliau bersama Soekarno mengatasnamakan kemerdekaaan Indonesia. Bung Hatta kelahiran 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, dari pasangan Haji Mohammad Jamil dan Siti Saleh. Haji Mohammad Jamil berasal dari Batuhampar, dekat Kota Payakumbuh, anak dari Syekh Arsyad, seorang guru agama yang cukup di kenal. Sedangkan Siti Saleha, asli Kota Bukittinggi. Ayahnya bernama Ilyas Bagindo Marah, seorang pedagang. Hatta sendiri anak kedua, kakaknya perempuan bernama Rafi’ah. Umur tujuh tahun, ayahny...

17 ASN Pemko Pariaman dan Kemenag Ikuti MTQ KORPRI Sumbar

Pariaman, Sitinjausumbar.com --- Walikota Pariaman  diwakili  Sekdako Pariaman Indra Sakti  melepas 17 orang ASN Pemko dan ASN Kemenag Kota Pariaman yang terdiri dari peserta dan official Kontingen Musabaqah Tilawatil Quran Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) untuk mengikuti MTQ KORPRI Nasional IV Tingkat Sumatera Barat di Padang, Selasa (23/10). MTQ KORPRI akan berlangsung 23-24 Oktober 2018  di UPTD Balai Kesehatan Olahraga Masyarakat dan Pelkes di Gunuang Pangilun Padang. Dalam arahannya, Indra Sakti didampingi Kadis Kominfo Kota Pariaman Nazifah di ruang kerjanya, Pemko Pariaman mengapresiasi para peserta yang memang sesuai aturan dalam event ini merupakan para Pegawai Negeri Sipil atau ASN. Lebih lanjut, kata Indra Sakti, Pegawai Negeri Sipil atau ASN bukan hanya mampu membantu pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan atau hanya semata berkutat pada urusan birokrasi. Melainkan, pegawai Negeri Sipil atau PNS juga bisa menjadi contoh atau t...

PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP DAN BENCANA KABUT ASAP

PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP DAN BENCANA KABUT ASAP   Oleh: Sabiruddin   dan Armaidi Tanjung (Sabiruddin, dosen jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Pengampu mata kuliah Ilmu Dakwah di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Imam Bonjol Padang) ( Armaidi Tanjung, Master bidang kajian Ilmu Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Islam,   Program Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang dan Pengampu mata kuliah Metode Pekerjaan Sosial di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) IAIN Imam Bonjol Padang) email: sabiruddinjuli@gmail.com dan armaidi9@gmail.com ABSTRAK Pencemaran lingkungan hidup semakin tidak terbendung seiring dengan pesatnya pembangunan di berbagai sektor kehidupan. Pencemaran lingkungan menimbulkan   kerusakan lingkungan hidup.   Pencemaran tersebut   pada dasarnya terjadi karena,   mengubah ciptaan Allah, kezhaliman untuk melakukan   pengrusakan lingkungan, berjalan sombong di mu...